Penulis: Syarif Nurul Hidayatullah, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Melawi
Kisah pilu datang dari seorang PPPK Paruh Waktu di Kabupaten Melawi. Sebut saja namanya Hadari, yang akrab dipanggil Ateng. Ia bertugas di Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Melawi.
Perjalanan panjangnya sebagai tenaga honorer akhirnya berbuah hasil pada awal Januari 2026. Setelah bertahun-tahun mengabdi dengan penghasilan terbatas, nasibnya berubah ketika resmi diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu. Pelantikan menjadi momen yang ditunggu-tunggu, simbol harapan akan kehidupan yang lebih layak.
Namun untuk menghadiri pelantikan tersebut, ia harus mengenakan pakaian dinas harian (PDH) warna coklat. Dengan penghasilan yang selama ini hanya berkisar sedikit di atas satu juta rupiah, membeli seragam baru bukan perkara mudah. Tekadnya untuk tetap hadir dalam momen penting itu membuatnya nekat berhutang demi mendapatkan pakaian dinas yang diwajibkan.
Harapannya sederhana. Setelah resmi menjadi PPPK Paruh Waktu, setidaknya ada kepastian penghasilan yang bisa diandalkan untuk keluarga.
Realitas berkata lain, Ssjak dilantik hingga memasuki Maret 2026, gaji yang dinantikan belum juga masuk ke rekeningnya. Ia rutin mendatangi bank, berharap ada notifikasi transfer yang muncul. Namun layar yang menyala hanya menampilkan saldo kosong.
Kesedihannya pernah ia sampaikan saat berkumpul bersama rekan-rekan dalam suasana santai bermain Remi Box. Di tengah canda, terselip cerita tentang beban yang ia tanggung diam-diam.
Situasi semakin terasa berat menjelang bulan suci Ramadan 2026. Bagi sebagian orang, Ramadan adalah momen berkumpul dengan keluarga, menikmati sahur pertama dengan menu yang lebih istimewa dari biasanya. Namun bagi Hadari, jangankan mengirim uang untuk istri dan anaknya, untuk pulang ke Kabupaten Sintang pun ia tidak memiliki ongkos.
Perjalanan dari Melawi ke Sintang yang memakan waktu kurang lebih satu setengah jam terasa begitu jauh ketika isi dompet tak mendukung. Sahur pertamanya di Ramadan tahun ini pun dilalui bersama rekan-rekan yang berinisiatif menggelar sahur bersama.
Di balik status barunya sebagai PPPK Paruh Waktu, ia masih berjuang dalam ketidakpastian. Harapan yang sempat tumbuh saat pelantikan kini tergantung pada satu hal sederhana: kepastian hak yang belum juga diterima.
Kisah ini menjadi cerminan bahwa di balik kebijakan dan administrasi, ada manusia dengan keluarga yang menunggu nafkah di rumah.











Comment