Melawi Opini
Home » Berita » Legenda Danau Lobur Melawi, Dari Pelanggaran Adat ke Kutukan Abadi

Legenda Danau Lobur Melawi, Dari Pelanggaran Adat ke Kutukan Abadi

Di tengah bentang alam Kalimantan Barat yang masih menyimpan hutan lebat dan sungai-sungai alami, tersimpan sebuah kisah yang hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat. Legenda tersebut berasal dari Tanjung Sokan, sebuah kampung di Kecamatan Sokan, Kabupaten Melawi, yang dikenal kuat memegang adat istiadat leluhur.

Masyarakat setempat hidup berdampingan dengan alam. Aktivitas sehari-hari seperti berladang, bersawah, menoreh getah, hingga berburu menjadi bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan. Namun lebih dari itu, adat menjadi fondasi utama yang mengatur keseimbangan hidup mereka. Setiap larangan dan pantangan dipercaya bukan sekadar aturan, melainkan penjaga harmoni antara manusia dan alam.

Keseimbangan itulah yang, menurut cerita turun-temurun, pernah dilanggar.

Peristiwa bermula saat masyarakat Tanjung Sokan menggelar gawai besar, sebuah pesta pernikahan adat yang wajib dihadiri seluruh warga. Tradisi “pongil” mengharuskan setiap orang hadir sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan kebersamaan komunitas. Ketidakhadiran bukan hanya dianggap abai, tetapi juga pelanggaran serius terhadap aturan leluhur.

Di tengah suasana persiapan pesta, seorang warga bernama Pak Gelok justru mengambil keputusan berbeda. Ia memilih pergi berburu ke hutan. Dengan membawa senapang lantak dan perlengkapan berburu, ia meninggalkan kampung meski telah diperingatkan oleh warga lain.

Pasokan Air Baku Brond Poring Terhenti, Perumdam Tirta Melawi Berlakukan Distribusi Bergilir

“Jangan pergi. Ini pantangan,” begitu kira-kira peringatan yang ia terima.

Namun Pak Gelok tetap bersikeras. Baginya, hasil buruan dianggap lebih bernilai daripada menghadiri pesta. Sebuah pilihan yang kelak diyakini menjadi awal dari bencana besar.

Ia menuju Bukit Batu di hulu Sungai Bomant, wilayah yang dikenal kaya akan satwa liar. Di sana, ia mulai mengintai, menunggu mangsa. Sementara itu, di kampung, gawai berlangsung meriah dengan musik, tawa, dan kebersamaan warga.

Di waktu yang hampir bersamaan, istrinya yang tinggal di rumah tertidur karena lelah. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat suaminya berhadapan dengan seekor kijang putih bertanduk indah. Sosok yang tak biasa, bahkan bagi pemburu sekalipun. Dalam mimpi itu, Pak Gelok bersiap menarik pelatuk.

Namun sebelum tembakan terjadi, tanah di sekitar Bukit Batu mendadak longsor.

Kasus Videotron Bermuatan Pornografi di Melawi Masuk Ranah Hukum, Khairul Atma Desak Polisi Segera Bertindak

Tak lama setelah itu, suara ledakan keras terdengar hingga ke kampung. Tanah bergetar, langit menggelap, dan awan hitam menyelimuti wilayah Tanjung Sokan. Warga yang tengah berpesta segera keluar, menghentikan gawai, dan mencoba memahami apa yang terjadi.

Kejanggalan berikutnya segera terlihat. Sungai Bomant, yang selama ini menjadi sumber kehidupan, tiba-tiba mengering. Para tetua adat langsung menyimpulkan bahwa telah terjadi pelanggaran besar terhadap aturan leluhur.

Kecurigaan mengarah pada satu nama: Pak Gelok.

Menjelang sore, warga bersama tetua adat bergerak menuju hulu sungai. Perjalanan melewati hutan dan lembah membawa mereka pada pemandangan yang mengejutkan. Bukit Batu telah runtuh. Di tempat yang sebelumnya berupa daratan dan aliran sungai, kini terbentang genangan air luas menyerupai danau.

Pohon-pohon tumbang terendam, air keruh menutup seluruh area, dan jejak Sungai Bomant seolah hilang dari peta.

Dilantik Bupati Jadi Kepala BKPSDM Melawi, Hendra Permana Siap Benahi Tata Kelola ASN dan Perkuat SDM Aparatur

Pencarian terhadap Pak Gelok dilakukan di sepanjang tepian, namun tak ditemukan tanda keberadaannya. Istrinya yang turut dalam rombongan tak mampu menahan kesedihan. Tangisnya pecah hingga akhirnya jatuh pingsan.

Malam itu, para tetua adat menggelar musyawarah. Kesimpulan yang diambil menjadi bagian dari cerita yang terus hidup hingga kini. Peristiwa tersebut disebut sebagai “Lobur”, sebuah kiamat kecil yang terjadi akibat pelanggaran adat manusia.

Sejak saat itu, danau yang terbentuk diberi nama Danau Lobur.

Beberapa hari setelah kejadian, kisah tersebut semakin berkembang. Seorang warga mengaku bermimpi melihat Pak Gelok berubah menjadi seekor lelabi besar, sementara senapang lantaknya menjelma menjadi ular raksasa yang menghuni danau. Cerita itu terus menyebar, menguatkan keyakinan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar bencana alam, melainkan bentuk kutukan.

Hingga kini, sebagian masyarakat masih mempercayai bahwa makhluk tersebut sesekali menampakkan diri di sekitar Danau Lobur.

Legenda ini bukan hanya cerita, melainkan pengingat. Bagi masyarakat Tanjung Sokan, kisah Danau Lobur menjadi simbol penting tentang konsekuensi melanggar adat. Ia menegaskan bahwa keseimbangan antara manusia, tradisi, dan alam bukan sesuatu yang bisa diabaikan tanpa akibat.

Cerita ini terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus peringatan yang tak lekang oleh waktu.

Penulis: Hidayatsyah
Ketua Komisariat HMI STKIP Melawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement