Melawi
Home » Berita » Kemarau Panjang Melanda, Forsip Gelar Doa Bersama Mohon Turunnya Hujan

Kemarau Panjang Melanda, Forsip Gelar Doa Bersama Mohon Turunnya Hujan

katalistiwa.online, melawi – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Melawi dalam beberapa pekan terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Kondisi cuaca yang kering dan minimnya curah hujan turut memunculkan kabut asap di sejumlah wilayah.

Di tengah kondisi tersebut, Forum Silaturahmi Pantai Utara (Forsip) menggelar doa bersama memohon turunnya hujan. Doa tersebut dilaksanakan di sela kegiatan rutin mingguan Serakalan, Jumat, 21 Agustus 2026, yang berlangsung di Kantor SUAR Institute.

Doa bersama dipimpin oleh H. Sulaiman. Para peserta yang hadir mengikuti pembacaan doa dengan khusyuk, memanjatkan harapan agar Allah SWT segera menurunkan hujan dan memberikan kesejukan bagi masyarakat Kabupaten Melawi.

Sekretaris Forsip, Ahmad Fadhila Suandi menyampaikan, kondisi kemarau yang terjadi saat ini sudah cukup lama dirasakan masyarakat. Berdasarkan kondisi yang mereka amati, Kabupaten Melawi sudah hampir dua bulan tidak mengalami hujan secara berarti.

“Sudah hampir dua bulan ini kita tidak turun hujan. Kondisi semakin terasa kering dan kabut asap juga mulai melanda. Karena itu, melalui kegiatan rutin Serakalan ini kita bersama-sama berdoa memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan,” ujarnya.

KPA Ciwanadri Melawi Salurkan 43.571 Liter Air Bersih, Jangkau 1.742 Warga di Tengah Kekeringan dan Karhutla

Menurutnya, kemarau panjang bukan hanya berdampak terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga mulai dirasakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kekeringan dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran lahan dan hutan, serta munculnya kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.

Ia berharap doa bersama tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk semakin meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Masyarakat juga diingatkan agar tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan sembarangan, terlebih dalam kondisi cuaca yang sangat kering.

“Selain berdoa, kita juga harus berikhtiar. Jangan sampai kondisi kemarau seperti ini justru dimanfaatkan untuk membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Risiko kebakaran sangat besar karena kondisi lahan kering,” lanjutnya.

Kegiatan Serakalan yang rutin dilaksanakan setiap minggu tersebut menjadi ruang bagi anggota Forsip dan masyarakat untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus membahas berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam suasana kemarau panjang, doa bersama menjadi bentuk ikhtiar batin sekaligus pengingat bahwa menghadapi kondisi alam membutuhkan kebersamaan. Masyarakat tidak hanya diharapkan bersabar menunggu turunnya hujan, tetapi juga ikut menjaga lingkungan agar tetap aman dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.

PLN Sering Padam di Tengah Kemarau, Panel Pompa Perumdam Tirta Melawi Rusak Parah

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Melawi untuk bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun, kondisi udara kembali membaik, kabut asap berangsur hilang, serta masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas dengan nyaman.

Di tengah langit yang masih kering dan tanah yang mulai kehilangan kelembapan, doa menjadi salah satu bentuk harapan yang terus dipanjatkan. Sebab ketika hujan belum juga datang, manusia memang akhirnya kembali diingatkan bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan hanya dengan rapat, spanduk, dan unggahan media sosial.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement