Ekonomi Pontianak
Home » Berita » Harga Kelapa di Kalbar Naik Drastis, Petani Kembali Bergairah dan Harap Tren Ini Bertahan Lama

Harga Kelapa di Kalbar Naik Drastis, Petani Kembali Bergairah dan Harap Tren Ini Bertahan Lama

katalistiwa.online, pontianak – Kabar baik datang dari sektor perkebunan di Kalimantan Barat. Harga kelapa di tingkat petani mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, mencapai kisaran Rp5.600 hingga Rp6.000 per butir untuk kelapa bulat yang belum dikupas. Sebelumnya, harga kelapa hanya berkisar Rp1.200 hingga Rp1.500 per butir. Kenaikan ini disambut antusias oleh para petani yang selama ini terdampak oleh rendahnya harga komoditas tersebut.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) Kalimantan Barat, Syarif Yusmayudi Yusuf, menyampaikan bahwa kondisi ini telah membangkitkan kembali semangat para petani dalam mengelola kebun kelapa mereka.

“Sekarang kita bisa lihat sendiri, kebun-kebun kelapa yang sebelumnya semak belukar, bahkan seperti hutan, kini mulai rapi dan bersih. Rumput-rumput yang dulunya tinggi sudah tertata, saluran air yang tersumbat kini lancar kembali,” ungkapnya saat dihubungi pada Kamis 1 Mei 2025.

Menurut Syarif Yusmayudi, kondisi ini tidak terlepas dari harga kelapa yang sedang bagus, yang telah memberikan harapan dan daya ungkit ekonomi bagi petani. Melalui APKI Kalbar, para petani pun berharap agar harga ini bisa bertahan lama dan mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait.

“Selama ini petani sangat dirugikan karena harga yang terlalu rendah. Tidak jarang mereka harus berutang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tambahnya.

Perjalanan Pontianak–Ketapang via Sungai, Jalan Rusak dan Harapan Perbaikan Infrastruktur

Dalam pernyataannya, Syarif Yusmayudi juga mendorong pemerintah dan pelaku industri untuk mendukung hilirisasi produk kelapa. Ia menilai bahwa sudah saatnya petani tidak hanya menjual kelapa dalam bentuk utuh, tetapi mengembangkan sentra-sentra pengolahan produk turunan kelapa seperti minyak kelapa, sabut, dan arang batok.

Selain itu, APKI Kalbar juga menekankan pentingnya program peremajaan kelapa, mengingat rata-rata usia pohon kelapa di Kalbar sudah lebih dari 30 tahun. “Kita juga dorong petani agar lebih profesional dalam mengelola kebun, menggunakan teknologi, serta menerapkan pemupukan yang tepat,” jelasnya.

Syarif Yusmayudi turut menyampaikan penolakannya terhadap rencana moratorium ekspor kelapa yang sempat mencuat. Ia menilai, alasan kelangkaan kelapa tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Saya bingung, kenapa ekspor mesti dihentikan dengan alasan kelangkaan, padahal kelapa itu ada dan setiap hari petani panen. Masalahnya adalah harga yang rendah selama ini,” tegasnya.

Ia menambahkan, apabila pihak pembeli, pabrik, atau pasar mau membeli dengan harga yang layak, maka petani pasti akan menjual.

Pemkot Pontianak dan Indomaret Dorong UMKM Tembus Ritel Modern

“Ibaratnya, ada rupa ada harga,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI yang telah membuka ruang dialog dengan APKI, serta kepada Ketua Umum DPN APKI dan jajarannya yang terus memperjuangkan kesejahteraan petani kelapa.

“Harapan kami, pemerintah dan semua pihak terkait terus mendukung petani agar tidak lagi berada di posisi yang merugi. Dengan harga yang wajar dan dukungan kebijakan yang berpihak, petani kelapa bisa hidup sejahtera,” pungkas Yusmayudi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement