Melawi
Home » Berita » Nasib Petani Sawit Melawi, Sudah Panen Kini Kesulitan Menjual TBS

Nasib Petani Sawit Melawi, Sudah Panen Kini Kesulitan Menjual TBS

katalistiwa.online, melawi – Petani kelapa sawit di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, kini menghadapi persoalan dalam memasarkan hasil panen. Sejumlah petani mengaku kesulitan menjual Tandan Buah Segar (TBS) sawit karena terbatasnya pembelian di sejumlah pabrik maupun Ram (pengepul/pengumpul buah sawit).

Keluhan tersebut disampaikan salah satu petani sawit asal Nanga Pinoh, Kurniawansyah, Jumat (28/8/2026). Menurutnya, kondisi saat ini cukup menyulitkan petani karena hasil panen yang sudah siap dijual tidak semuanya dapat langsung terserap oleh pasar.

Kurniawansyah mengatakan, sejumlah pabrik kelapa sawit kini mulai membatasi kuota pembelian sekaligus waktu penerimaan TBS. Kondisi tersebut membuat petani harus menyesuaikan waktu panen dan mencari tempat penjualan yang masih menerima buah.

“Pabrik sekarang membeli sudah membatasi kuota dan waktu beli. Sedangkan RAM pun sudah pada off untuk membeli,” ujar Kurniawansyah.

Ia menilai persoalan tersebut kemungkinan tidak terlepas dari kondisi kemarau panjang yang melanda wilayah Melawi. Menurutnya, musim kemarau yang berlangsung cukup panjang tidak hanya berdampak terhadap perkebunan, tetapi juga diduga memengaruhi kemampuan produksi sejumlah pabrik.

KPA Ciwanadri Melawi Salurkan 43.571 Liter Air Bersih, Jangkau 1.742 Warga di Tengah Kekeringan dan Karhutla

“Mungkin faktor kemarau panjang ini sulit untuk mereka melakukan produksi. Ada juga pabrik yang tidak membeli lagi karena tidak bisa produksi,” jelasnya.

Selain adanya pabrik yang berhenti melakukan pembelian, persoalan lain yang dihadapi petani adalah panjangnya antrean di pabrik yang masih menerima TBS.

Kondisi tersebut membuat petani harus menunggu lebih lama agar hasil panennya dapat masuk dan diterima. Bagi petani, situasi ini tentu menjadi persoalan tersendiri karena TBS merupakan hasil perkebunan yang membutuhkan penanganan dan penjualan dalam waktu relatif cepat.

“Ada yang membeli, tetapi antreannya begitu panjang,” ungkapnya.

Menurut Kurniawansyah, terbatasnya tempat penjualan membuat petani berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, buah sawit tetap harus dipanen karena sudah memasuki masa matang. Namun di sisi lain, tempat untuk menjual hasil panen tidak semuanya dapat menerima TBS dalam jumlah normal.

PLN Sering Padam di Tengah Kemarau, Panel Pompa Perumdam Tirta Melawi Rusak Parah

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memberikan dampak terhadap pendapatan petani apabila terus berlangsung. Apalagi petani tetap harus mengeluarkan biaya untuk perawatan kebun, pemupukan, tenaga panen hingga biaya angkutan.

Ia berharap pemerintah dapat mengambil peran dalam mencari solusi atas persoalan yang sedang dihadapi petani sawit di Melawi.

Menurutnya, diperlukan koordinasi antara pemerintah daerah, perusahaan atau pabrik kelapa sawit, RAM dan petani agar persoalan penyerapan TBS dapat segera dicarikan jalan keluar.

“Kami berharap ada peran pemerintah untuk mengatasi ini,” harapnya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu membuka komunikasi dengan pihak perusahaan dan pengelola pabrik agar penyerapan TBS petani tetap berjalan. Dengan demikian, hasil perkebunan masyarakat tidak mengalami hambatan terlalu lama untuk dipasarkan.

Kemarau Panjang Mengancam, Perumdam Tirta Melawi Pastikan Air Baku Masih Cukup hingga 2 Bulan

Persoalan ini menjadi semakin penting di tengah kondisi kemarau panjang yang masih berlangsung. Jika aktivitas produksi sejumlah pabrik ikut terdampak, sementara tempat penjualan lainnya juga membatasi pembelian, petani berpotensi menghadapi tekanan ganda, yakni dari sisi produksi maupun pemasaran.

Kurniawansyah berharap kondisi tersebut segera mendapat perhatian sehingga petani sawit tetap memiliki kepastian dalam menjual hasil panennya.

“Bagi petani, keberadaan akses pasar yang lancar menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha perkebunan sawit. Mereka berharap ada solusi bersama agar hasil panen tetap dapat terserap dan aktivitas ekonomi masyarakat di sektor perkebunan tetap berjalan,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement