Melawi Polri/TNI
Home » Berita » El Nino Mengancam, Kapolres Melawi Imbau Warga Stop Bakar Lahan

El Nino Mengancam, Kapolres Melawi Imbau Warga Stop Bakar Lahan

katalistiwa.online, melawi – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Melawi menjadi perhatian serius di tengah kondisi cuaca kering dan fenomena El Nino. Kapolres Melawi, AKBP Askhabul Kahfi, mengimbau seluruh masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.

Imbauan tersebut disampaikan Kapolres Melawi saat diwawancara disela kegiatan silaturahmi bersama awak media di Polres Melawi, Kamis (20/8/2026).

AKBP Askhabul Kahfi mengatakan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan selama kondisi cuaca kering. Terlebih, pemerintah provinsi juga telah mengingatkan masyarakat Kalimantan Barat agar tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu terjadinya Karhutla.

“Kita mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan. Ini juga sesuai dengan imbauan Bapak Gubernur Kalbar agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan di masa El Nino seperti sekarang,” ujar Kapolres.

Menurutnya, kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya Karhutla.

KPA Ciwanadri Melawi Salurkan 43.571 Liter Air Bersih, Jangkau 1.742 Warga di Tengah Kekeringan dan Karhutla

Kapolres juga mengajak masyarakat untuk tidak menganggap pembakaran lahan sebagai persoalan sederhana. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas apabila dipengaruhi angin dan kondisi vegetasi yang kering.

“Kita berharap masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan. Jangan sampai pembakaran yang awalnya dianggap kecil justru menjadi kebakaran yang besar dan merugikan banyak pihak,” tegasnya.

Terpisah, Ketua Umum KPA Ciwanadri Kabupaten Melawi, Dea Kusumah Wardhana, turut mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan di tengah kondisi cuaca kering yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Melawi.

Menurut Dea, musim kemarau yang diperparah dengan fenomena El Nino membuat lahan dan vegetasi menjadi lebih mudah terbakar. Api yang berasal dari aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan dapat dengan cepat merambat, terutama apabila kondisi angin cukup kencang dan sumber air terbatas.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan sembarangan. Kondisi saat ini sangat rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Sedikit saja api tidak terkendali, bisa meluas dan menimbulkan dampak yang besar bagi masyarakat,” ujar Dea.

PLN Sering Padam di Tengah Kemarau, Panel Pompa Perumdam Tirta Melawi Rusak Parah

Dea yang juga merupakan anggota Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kabupaten Melawi tersebut menilai bahwa pencegahan harus menjadi langkah utama dalam menghadapi ancaman Karhutla.

Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati, khususnya warga yang memiliki lahan pertanian maupun perkebunan yang berdekatan dengan areal perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Menurut Dea, apabila masyarakat dalam kondisi tertentu harus melakukan pembakaran untuk membuka atau membersihkan lahan, komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah desa serta pihak terkait harus dilakukan terlebih dahulu.

“Kalau emang harus melakukan pembakaran lahan terlebih dahulu memberi tahu Satgas yang dibentuk oleh desa dan pihak perusahaan terdekat,  sehingga pihak perusahaan bisa membantu warga seperti yang dilakukan oleh PT Rafi Kamjaya Abadi,” terangnya.

Dengan adanya koordinasi tersebut, kata Dea, pengamanan dapat dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah desa, masyarakat dan perusahaan dapat mengetahui aktivitas pembakaran sehingga langkah antisipasi bisa segera dilakukan apabila api mulai tidak terkendali.

Kemarau Panjang Mengancam, Perumdam Tirta Melawi Pastikan Air Baku Masih Cukup hingga 2 Bulan

“Jangan sampai masyarakat membakar sendiri tanpa ada pengawasan. Kalau sudah dikoordinasikan, tentu pihak perusahaan juga bisa membantu mengamankan areal dan menyiapkan langkah antisipasi apabila api meluas,” jelasnya.

Dea juga mengingatkan bahwa persoalan Karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Dampak asap akibat kebakaran lahan juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama terhadap kesehatan.

Ia menyoroti tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Melawi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi yang disampaikan sebelumnya, kasus ISPA di Melawi telah mencapai lebih dari 2.000 kasus sepanjang 2026.

Menurut Dea, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama. Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, khususnya bagi anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.

“Kasus ISPA yang sudah mencapai lebih dari dua ribu ini harus menjadi perhatian kita semua. Jangan sampai Karhutla terus terjadi, kemudian asap semakin tebal dan kualitas udara semakin buruk. Dampaknya tentu kembali kepada masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, pencegahan Karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, TAGANA, pemadam kebakaran maupun perusahaan perkebunan.

Menurutnya, masyarakat memiliki peran yang sangat penting karena potensi kebakaran dapat diketahui dan dicegah sejak dini dari lingkungan masing-masing.

Dea berharap masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi menimbulkan kebakaran besar.

“Mari kita sama-sama menjaga Melawi. Jangan menunggu api membesar baru bergerak. Pencegahan jauh lebih penting. Kalau ada potensi kebakaran, segera laporkan dan lakukan koordinasi dengan pemerintah desa maupun petugas terkait,” pungkasnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, perusahaan, pemerintah desa dan instansi terkait memperkuat sinergi menghadapi musim kemarau dan ancaman Karhutla.

Dengan kepedulian serta koordinasi yang kuat, diharapkan potensi Karhutla di Kabupaten Melawi dapat ditekan. Selain menjaga lingkungan, langkah tersebut juga penting untuk melindungi masyarakat dari ancaman kabut asap dan dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

Perubahan mindset yang wajib: Karhutla bukan masalah ketika api sudah membesar, tetapi masalah ketika manusia masih menganggap api kecil sebagai sesuatu yang aman.

Keputusan utama yang tidak bisa ditunda: hentikan pembakaran lahan sembarangan selama kondisi kering dan rawan Karhutla.

Langkah paling berdampak sekarang: perkuat koordinasi antara warga, pemerintah desa, perusahaan dan petugas terkait sebelum setiap aktivitas yang berpotensi memunculkan api dilakukan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement